BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan perilaku binatang buruannya.
Setelah selesai melakukan perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara upacara sebagai bentuk “rasa syukur” mereka, dan “penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta. Ada juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang lain.
The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun demikian, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika.
Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra. Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya, seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks, sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan.
Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan perilaku binatang buruannya.
Setelah selesai melakukan perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara upacara sebagai bentuk “rasa syukur” mereka, dan “penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta. Ada juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang lain.
The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun demikian, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika.
Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra. Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya, seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks, sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan berbagai macam keahlian dan keterampilan.
Seni
teater menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yang
meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater merupakan
suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon, sutradara, pemain
(pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan diproduksi oleh sekelompok
orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni teater dilakukan bersama-sama yang
mengharuskan semuanya sejalan dan seirama serta perlu harmonisasi dari
keseluruhan tim. Pertunjukan ini merupakan proses seseorang atau sekelompok
manusia dalam rangka mencapai tujuan artistik secara bersama. Dalam proses
produksi artistik ini, ada sekelompok orang yang mengkoordinasikan kegiatan
(tim produksi). Kelompok ini yang menggerakkan dan menyediakan fasilitas,
teknik penggarapan, latihan latihan, dan alat-alat guna pencapaian ekspresi
bersama. Hasil dari proses ini dapat dinikmati oleh penyelenggara dan
penonton.
Bagi penyelenggara, hasil dari proses tersebut merupakan suatu kepuasan tersendiri, sebagai ekspresi estetis, pengembangan profesi dan penyaluran kreativitas, sedangkan bagi penonton, diharapkan dapat diperoleh pengalaman batin atau perasaan atau juga bisa sebagai media pembelajaran. Melihat permasalahan di dalam teater yang begitu kompleks, maka penulis mencoba membuat sebuah paparan pengetahuan teater dari berbagai unsur.
Bagi penyelenggara, hasil dari proses tersebut merupakan suatu kepuasan tersendiri, sebagai ekspresi estetis, pengembangan profesi dan penyaluran kreativitas, sedangkan bagi penonton, diharapkan dapat diperoleh pengalaman batin atau perasaan atau juga bisa sebagai media pembelajaran. Melihat permasalahan di dalam teater yang begitu kompleks, maka penulis mencoba membuat sebuah paparan pengetahuan teater dari berbagai unsur.
BAB II
PEMBAHASAN
Drama
adalah sebuah bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertontonkan
didepan banyak orang yang berupa dialog nah dialog itu sendiri mempunyai sebuah
pengertian yang artinya percakapan para pemain
Tujuan diadakan nya drama yaitu untuk mengetahui data empiris tentang penerapan model konsiderasi dalam pembelajaran menulias naskah drama yang baik dan sopan dan juga pemerananya sebagai media pengekspresian nilai nilai karakter.
faktor faktor lain dari drama yaitu sebagai berikut
Tujuan diadakan nya drama yaitu untuk mengetahui data empiris tentang penerapan model konsiderasi dalam pembelajaran menulias naskah drama yang baik dan sopan dan juga pemerananya sebagai media pengekspresian nilai nilai karakter.
faktor faktor lain dari drama yaitu sebagai berikut
tata busana
(desaigning)
tata rias (face)
tata lampu
(lightning)
tata panggung
(decorating of podium)
tata suara (voice)
ciri ciri drama ada
juga macam macam nya:
ada
konfliks
ada aksi
harus dilakonkan
tempoh masa kurang dari
3 jam
tak ada ulangan dalam
satu masa
B. Drama
Dalam
sejarah, seni drama tercatat
dimulai sejak jauh sebelum tahun 500 SM. Pada awalnya, Teater hanya dilakoni
sebagai sebuah upacara ritual keagamaan ribuan tahun sebelum Masehi. Beberapa
bangsa kuno yang memiliki peradaban maju, seperti bangsa Maya di Amerika
Selatan, Mesir Kuno, Babilonia, Asia Tengah, dan Cina, menggunakan bentuk
teater sebagai salah satu cara untuk berhubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Biasanya yang mendalangi seluruh upacara ritual itu adalah dukun atau pendeta
agung.
Sejarah
mencatat, seni teater berfungsi hanya sebagai upacara ritual (keagamaan),
melainkan berfungsi pula sebagai kesenian atau hiburan. Peristiwa teater yang
mensyaratkan kebersamaan, saat, dan tempat, tetaplah menjadi persyaratan utama
kehadiran teater sejak ribuan tahun sebelum Masehi, sehingga pada zaman Yunani
teater pun selalu hadir dengan persyaratan yang serupa. Berdasarkan penjelasan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa sesuatu dapat disebut teater jika ada
keutuhan tiga kekuatan, berupa: orang teater, tempat, dan komunitas (penonton).
Tiga kekuatan inilah yang bertemu dan melahirkan sinergi dan melahirkan
“peristiwa teater”.
Dalam
sejarah, seni teater pada zaman Yunani dikenal sebagai zaman yang melembagakan
konvensi berteater yang masih memiliki pengaruh sampai sekarang. Mantra-mantra
yang mulanya hanya lisan dan tak tertulis, berlangsung menjadi naskah tertulis,
sementara doa-doa berubah bentuknya menjadi kisah atau lakon. Yunani melahirkan
tokoh penelitian naskah drama, antara lain Aeschylus (525-456 SM), Sophocles
(496-406 SM), Euripides (480-406 SM), dan Aristophanes (sekitar 400 SM). Mereka
adalah bapak moyang para peneliti naskah drama.
Pada
perkembangan sejarah seni teater berikutnya, upacara keagamaan lebih
menonjolkan penceritaan. Sekelompok manusia bergerak mengarak seekor kambing
yang sudah didandani dengan berbagai perhiasan. Mereka menggiring persembahan
itu mengelilingi pasar atau jalan raya diiringi bunyi tambur, seruling, dan
bunyi-bunyian lain. Iring-iringan itu memperlambat jalannya, apabila penonton
bertambah atau berhenti untuk memberi kesempatan kepada narator (pencerita)
yang mengisahkan suatu peristiwa. Narator mengisahkan salah satu dewa kepada
penonton yang berderet-deret di pinggir jalan atau berdiri mengerumuninya.
C. Pengertian Musik
Musik adalah salah satu media ungkapan kesenian, musik mencerminkan
kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan
norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam
bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas,
baik dari sudut struktual maupun jenisnya dalam kebudayaan. Demikian juga yang
terjadi pada musik dalam kebudayaan masyarakat melayu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602)
Musik adalah: ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu)
Musik adalah: ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu)
Sehingga Seni musik
adalah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur
dalam bentuk bunyi. Bisa dikatakan, bunyi (suara) adalah elemen musik paling
dasar. Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu:
irama, melodi, dan harmoni. Irama adalah pengaturan suara dalam suatu waktu,
panjang, pendek dan temponya, dan ini memberikan karakter tersendiri pada
setiap musik. Kombinasi beberapa tinggi nada dan irama akan menghasilkan melodi
tertentu. Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan
bunyi yang harmoni.
Musik termasuk seni manusia yang paling tua. Bahkan bisa dikatakan, tidak
ada sejarah peradaban manusia dilalui tanpa musik, termasuk sejarah peradaban
Melayu. Dalam masyarakat Melayu, seni musik ini terbagi menjadi musik vokal,
instrument dan gabungan keduanya. Dalam musik gabungan, suara alat musik
berfungsi sebagai pengiring suara vokal atau tarian. Alat-alat musik yang
berkembang di kalangan masyarakat Melayu di antaranya: canang, tetawak, nobat,
nafiri, lengkara, kompang, gambus, marwas, gendang, rebana, serunai, rebab,
beduk, gong, seruling, kecapi, biola dan akordeon. Alat-alat musik di atas
menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik
lainnya.
D.
Hubungan
Antara Drama dengan Musik
Musik dan drama memiliki banyak kesamaan dan saling
melengkapi. Sayangnya, dengan hubungan antara kedua seni tersebut, nilai riil
mereka seringkali diabaikan. Dalam musik, hal itu berkali-kali keliru bahwa
robot (pemain musik otomatis dengan sistem komputer), mesin atau software
diangggap seperti seorang yang memainkan musik dengan baik, hal tersebut karena
itu adalah "teknis" atau bagian dari musik yang tidak bisa
ditinggalkan. Prinsip yang sama juga berlaku untuk drama. Seringkali banyak
aktor menjadi terkenal bukan karena fleksibilitas mereka dalam asumsi peran
(berakting) tetapi untuk alasan lain seperti penampilan, popularitas di media,
dll
Memang benar, penguasaan dalam seni pertunjukan tidak
memerlukan keterampilan teknis yang berlebihan. Namun, itu bukan satu-satunya
aspek untuk tersampainya sebuah pertunjukan. Jika tidak ada perasaan, tidak ada
emosi, baik akting atau musik, tidak ada hal yang tersampaikan kepada para
penikmatnya dan tidak ada komunikasi yang nyata, yang merupakan unsur paling
penting dari seni.
Dalam musik, ada dinamika (variasi intensitas) dan
nuansa (variasi halus). Mengikuti dinamika dan nuansa, seseorang harus
melakukan ini dan tetap setia pada nilai yang terdapat pada keduanya. Namun,
hal tersebut belum tentu sama dengan mengekspresikan perasaan atau emosi
sekalipun.
Rahasianya terletak pada komposer dan dengan asumsi
sudut pandang nya adalah ketika ia awalnya terdiri atau menulis artikel itu.
Dalam drama, itu berjalan seperti ini : Seorang aktor, setelah belajar
bagiannya, memutuskan bagaimana untuk memerankan karakternya. Dia mewujudkan
peran dan menjadi karakter itu. Ekspresi wajah, nada suara, kecepatan, gerakan
dan postur, dll, semua sabgat hati-hati dibuat. Aktor ini menuangkan jiwanya ke
dalam karakter untuk mengilhami dengan kehidupan dan dengan demikian bernyawa
itu. Dia harus menganggap sudut pandang karakter itu dan menjadi itu.
Prinsip yang sama berlaku untuk musik. Pertama, orang
harus mencirikan bagian, yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya.
Berikutnya, kita harus benar-benar menyelam ke dalam sudut pandang komposer
untuk itu bagian tertentu. Apa bagian yang benar-benar mengatakan? Perasaan apa
saja isinya? Apakah itu mengandung cinta, benci, keinginan, kehilangan,
sukacita, dll? Dengan mewujudkan perasaan, satu bermain dengan berkomunikasi
emosi, yang kemudian menciptakan dampak emosional pada penonton dan sekarang, seni
sebenarnya terjadi.
Dan masing-masing bagian berbeda dalam perasaan
masing-masing. Sayangnya, beberapa musisi telah menjadi agak homogen.
Rekomendasi saya akan bagi musisi dari setiap tingkat untuk juga belajar seni
dramatis untuk beberapa derajat. Juga, aktor harus belajar musik untuk beberapa
derajat. Keduanya akan membantu dalam memperluas luasnya seseorang pemahaman
keahliannya. Mendedikasikan beberapa waktu dan latihan, sebagai profesional
sejati akan, hasil yang layak.
Musik adalah alat yang ampuh untuk transformasi diri.
Manusia mendengarkan musik dan secara naluriah ingin bertepuk tangan, keran
atau tari. Musik memiliki kekuatan untuk menciptakan energi semacam itu. Hal
ini menyentuh emosi tersembunyi, kemampuan dan ekspresi. Ini adalah terapi. Ini
membantu meningkatkan apresiasi estetika seseorang. Ini adalah energi yang
berbeda sama sekali. Benar-benar mewujudkan perasaan adalah aspek integral.
No comments:
Post a Comment